Selasa, 23 Agustus 2011

KEBUTHAN INVESTASI DI NTB

ANALISIS KEBUTUHAN INVESTASI SUB SEKTOR PETERNAKAN DI PROPINSI NTB TAHUN 2003-2007






 Oleh  :

IMAM ZULKARNAIN
Email : Imamzr13@yahoo.com


BAB  I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
            Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai potensi sumber daya alam yang cukup besar dengan keanekaragamannya yang terdiri dari sumber daya laut/air, sumber daya hutan, sumber daya tanah, dan sebagainya yang kesemuanya itu perlu dikelola dengan sumber daya manusia yang memadai dalam rangka memperlancar jalannya pembangunan yang sedang digalakkan di era globalisasi.  Salah satu sektor yang mengolah sumber daya alam yang ada (sumber daya air dan tanah) adalah sektor pertanian. Di masa yang akan datang, sektor ini diharapkan masih mampu memberikan sumbangsihnya sebagai pilar yang mampu menopang perekonomian Indonesia. (Bustanul arifin : 3).
               Menyadari bahwa potensi sumber daya sektor pertanian Indonesia, khususnya propinsi NTB yang cukup besar untuk dikembangkan, maka pembangunan pertanian memegang peranan didalam menunjang pembangunan nasional dan bahkan sebagai bagian penentu keberhasilan pembangunan daerah. Hal ini terlihat bahwa sektor pertanian masih memegang peranan sebagai penyumbang terbesar dalam pembentukan PDRB, akan tetapi secara kuantitatif laju pertumbuhannya relatif lebih lamban bila dibandingkan dengan sektor lainnya, sebagai gambaran dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :
Tabel 1: Kontribusi masing masing sektor terhadap PDRB NTB Tahun 1998-2002, Atas Dasar Harga Konstan 1993 (Dalam Persen).
No
Lapangan usaha/sektor
1998
1999
2000
2001
2002
1.




2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

9.
Pertanian
1.1  pertanian tanaman pangan
1.2  perkebunan
1.3  pertenakan
1.4  kehutanan
1.5  perikanan
Pertambangan dan penggalian
Industri dan pengolahan
Listrik, gas dan air bersih
Bangunan
Perdagangan, hotel dan restauran
Pengangkutan dan telekomunikasi
Lembaga keuangan, sewa, jasa perusahaan
Jasa jasa
36,08
23,94
3,02
4,47
1,15
3,50
2,84
4,83
0,52
7,69
16,28
11,81
2,73

17,22
35,46
23,18
3,07
4,33
1,38
3,51
4,99
4,81
0,33
7,59
15,83
11,85
2,27

16,66
27,67
17,57
2,64
3,55
1,05
2,86
24,78
3,97
0,44
6,20
12,54
9,68
1,79

12,93
25,51
16,14
2,32
3,35
1,08
2,62
29,03
3,84
0,42
5,93
12,19
9,31
1,80

11,94
24,97
15,73
2,28
3,33
1,01
2,59
29,16
3,93
0,43
6,00
12,45
9,52
1,84

11,70


PDRB
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
Sumber : PDRB NTB 2002, BPS Propinsi NTB
Berdasarkan tabel 1 diatas, terlihat bahwa peran sektor pertanian masih tergolong sebagai sektor yang memberikan kontribusi  cukup besar didalam pembentukan PDRB jika dibandingkan dengan sektor lainnya, hal ini terlihat dari tahun, 1998, 1999, 2000 yaitu dengan kontribusinya sebesar, 36,08,  35,46, dan 27,67 persen sedangkan untuk tahun 2001dan tahun 2002  kontribusi sektor pertanian cenderung menurun yaitu sebesar 25,51 dan 24,97 persen, bahkan pada tahun terakhir ini kontribusi sektor pertanian berada pada urutan kedua terbesar setelah sektor pertambangan dan penggalian yaitu sebesar 29,03 persen, untuk tahun 2001 dan 29,16 persen pada tahun 2002. Sementara untuk laju pertumbuhan sektor pertanian juga cenderung lebih lambat. Hal ini menandakan telah terjadi trend penurunan seiring dengan berlangsungnya proses transpormasi struktur perekonomian daerah NTB. Proses semacam ini tentu akan sangat mempengaruhi terhadap kelangsungan pembangunan ekonomi salah satunya adalah sektor pertanian.
Disamping itu bahwa sektor pertanian juga merupakan salah satu sektor penting dalam menentukan strategi pembangunan karena menghasilkan bahan pangan bagi masyarakat dan sebagai penghasil bahan baku industri, maka sektor pertanian sebaiknya ditempatkan sebagai prioritas dalam pembangunan guna tetap mempertahankan swasembada pangan.
Peternakan adalah salah satu sub sektor pertanian, mempunyai visi dan misi yaitu terus meningkatkan dan memelihara kemantapan swasembada pangan, meningkatkan pendapatan masyarakat dan memperbaiki keadaan gizi melalui penganekaragaman jenis bahan pangan.
    Guna mendukung visi dan misi diatas, pemerintah melalui kebijakan program dan strategi mengupayakan  :
1.                  Peningkatan produktifitas ternak melalui penumbuhan kawasan sentra dan unit unit usaha produksi ternak baik penggemukan maupun pembibitan.
2.                  Pengembangan produk olahan untuk meningkatkan nilai tambah hasil produksi ternak melalui pengembangan home industri dan kerajinan, penyediaan daging dan produk olahan.
3.                  Penumbuhan kelembagaan dan sumberdaya manusia peternak melalui pengembangan kemandirian kelompok ternak, system kandang kelompok, dan koperasi
4.                  Pengembangan sarana dan prasarana peternakan untuk menunjang kegiatan produksi pengolahan dan pemasaran.
5.                  Kebijakan dan jasa pendukung berupa penguatan modal peternak melalui bantuan kredit atau usaha kemitraan ( Dinas Peternakan TK I NTB 2002 ).
Dengan adanya investasi yang dilakukan oleh pemerintah ataupun swasta yang dibarengi dengan  kebijaksanaan yang tepat akan dapat membina dan memacu pembangunan sektor peternakan yang diharapkan akan mampu memberikan peningkatan terhadap pendapatan domestik regional bruto (PDRB) sektor ini. Untuk melihat PDRB sub sektor peternakan dapat dilihat pada tabel  dibawah ini : 
Tabel 2.  Jumlah PDRB Sektor Pertanian dan Sub Sektor Peternakan NTB
Tahun 1998-2002 Atas Dasar Harga konstan 1993

Tahun
Jumlah PDRB (000 Rp) Dalam Harga Konstan

Sektor Pertanian
Sub Sektor Peternakan

1998
1999
2000
2001
2002

1. 176. 204. 392
1. 205. 225. 014
1. 211. 249. 706
1. 219. 301. 033
1. 235. 255. 875

145. 666. 115
147. 137. 343
155. 421. 175
160. 177. 063
165. 158. 127
Sumber : PDRB NTB 2002, BPS Propinsi NTB.
               Tabel  2 diatas menggambarkan bahwa pandapatan domestik regional bruto sektor pertanian dan sub sektor peternakan  dari tahun 1998 hingga dengan tahun 2002 terus mengalami peningkatan tiap tahunnya. Dimana tahun 1998 diperoleh nilai PDRB untuk sektor pertanian sebesar Rp. 1.176.204.392 dan mengalami perubahan sebesar Rp 1.205.225.014 pada tahun 1999 begitu pula pada tahun 2000, 2001 dan 2002 yang masing masing sebesar Rp. 1.211.249.706, 1.219.301.033, dan Rp.1.235.255.875. Demikian pula dengan PDRB sub sektor peternakan yang mengalami peningkatan tiap tahunnya yaitu dari tahun 1998 hingga tahun 2002 yang masing masing sebesar Rp. 145.666.115, 147.137.343, 155.421.175, 160.177.063, dan Rp. 165.158.127 untuk tahun 2002. Peningkatan PDRB sektor pertanian dan sub sektor peternakan diakibatkan adanya keadaan perekonomian yang stabil.
Mengingat peranannya yang sangat besar dalam kehidupan masyarakat baik dalam menciptakan kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat / daerah maka pengembangan sub sektor peternakan perlu ditingkatkan secara terus menerus. Untuk itu diperlukan suatu modal atau dana yang cukup besar dana tersebut biasanya dimasukkan  dalam anggaran pembangunan (investasi) baik yang dilakukan pihak pmerintah maupun pihak swasta..  Adapun jenis anggaran (investasi) yang dimaksud dalam penelitian ini  adalah anggaran pemerintah yang berasal dari APBNAPBD I, serta Bantuan Luar Negeri (BLN), sedangkan investasi dari pihak swasta bersumber dari PMDN. Jumlah anggaran investasi sub sektor peternakan di propinsi NTB tahun 1998-2002 dapat di lihat pada tabel sebagai berikut.:
Tabel 3.  Jumlah Anggaran Pembangunan ( Investasi ) Sub Sektor Peternakan Propinsi NTB pada tahun  1998-2002.
Tahun

Pemerintah

        Swasta


APBN
APBD I
BLN

Total Anggaran
1998
1.409.243.661
1.522.242.135
0
6.008.216.000
8.939.698.796
1999
1.056.245.915
985.863.478
0
6.008.216.000
8.050.325.393
2000
1.271.264.632
921.277.200
7.245.087.300
6.008.198.000
15.445.817.132
2001
1.171.848.329
717.372.600
0
6.060.198.000
7.949.418.929
2002
6.381.960.789
2.552.772.412
0
6.060.198.000
14.964.949.201
Sumber : Dinas Peternakan Propinsi NTB Tahun 1998-2002
            Jumlah nilai investasi pada sub sektor peternakan dari data yang ada pada tabel  3 diatas, menunjukan bahwa nilai investasi yang terjadi bersifat fluktuatif atau naik turun, hal ini terlihat pada tabel bahwa, nilai investasi yang terbentuk   pada tahun 1998, 1999 ,2000, 2001 dan tahun 2002 yaitu masing masing sebesar Rp. 8.939.698.796, Rp. 8.050.325.393, Rp. 15.445.817.132, Rp. 7.949.418.929,-. dan Rp. 14.964.949.201 Sedangkan investasi yang nilainya cukup tinggi terdapat  pada tahun 2000 dan tahun 2002 yang besarnya Rp. 15.445.817.132, dan Rp. 14.995.931.201. Peningkatan investasi ini terjadi khususnya pada tahun 2000 diakibatkan adanya penambahan sumber dana lain untuk pembiayaan pembangunan yaitu dana dari bantuan luar negeri (BLN), sedangkan peningkatan pada tahun 2002 diperkirakan karena adanya indikasi keadaan perekonomian yang kian membaik setelah terjadinya krisis ekonomi, sehingga terjadinya peningkatan investasi pada tahun ini. Untuk tahun yang akan datang diharapkan anggaran/investasi pembangunan terus meningkat serta lebih diprioritaskan, untuk mencapai semua itu diperlukan suntikan dana dari pemerintah maupun pihak swasta lainnya.
 Pentingnya penanaman modal (investasi) terhadap peningkatkan kegiatan/aktifitas ekonomi daerah terutama bila dilihat dari sisi pertumbuhan dan pengembangan sub sektor peternakan maupun dalam melanjutkan pembangunan selama ini, maka dimasa-masa yang akan datang sangat perlu dilakukan adanya peningkatan terhadap jumlah anggaran pembangunan atau investasi pemerintah maupun swasta, maka hal ini menarik untuk diteliti mengenai besarnya investasi yang dibutuhkan khususnya pada pengembangan sub sektor peternakan di propinsi NTB untuk periode 2003-2007.
Hal inilah yang melatarbelakangi munculnya rencana  penelitian yang berjudul “ANALISIS KEBUTUHAN INVESTASI SUB SEKTOR PETERNAKAN DI PROPINSI NTB TAHUN 2003-2007”

1.2 Perumusan Masalah

            Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan pokok permasalahan sebagai berikut :
Seberapa besar jumlah kebutuhan investasi pada sub sektor peternakan di propinsi NTB tahun 2003-2007

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.3.1 Tujuan penelitian.
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya jumlah   kebutuhan investasi pada sub sektor  peternakan di Propinsi NTB  tahun  2003-2007.

1.3.2  Manfaat Penelitian

         Adapun manfaat dilakukan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Secara akademis sebagai salah satu syarat untuk mencapai kebulatan studi program strata satu (SI) difakultas ekonomi universitas mataram.
2.      Secara teoritis ilmiah menjadi sarana bagi penulis untuk menerapkan teori yang diperoleh dibangku kuliah dan membandingkannya dengan kenyataan yang ada dilapangan.
3.      Secara praktis diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran sebagai bahan pertimbangan bagai daerah dalam pengambilan kebijakan, khususnya yang berkaitan dengan penyelenggaraan pembangunan sub sektor peternakan.

1.4              Perumusan Hipotesis.
            Berdasarkan perumusan masalah yang telah dikemukakan sebelumnya maka dapat dirumuskan hipotesa sebagai berikut :
Diduga bahwa jumlah kebutuhan investasi pada sub sektor peternakan propinsi NTB akan mengalami peningkatan pada periode tahun 2003-2007.
1.5              Identifikasi Variabel
            Dalam penelitian ini Variabel pokok yang akan diteliti adalah sebagai berikut :
1.      Kebutuhan Investasi sub sektor peternakan.
2.      Incremental Capital Output Ratia (ICOR)
3.      Laju pertumbuhan ekonomi sub sektor peternakan.
4.      Produk Domestik Regional Bruto (Value Added Sub Sektor Pernakan)

1.6              Definisi operasional variabel

            Variabel yang telah diidentifikasi tersebut dapat didefinisikan sebagai berikut : 
             Kebutuhan investasi sub sektor adalah dana yang dikeluarkan oleh masing-masing sub sektor dalam jangka waktu tertentu dengan tujuan guna meningkatkan produk/outputnya sehingga pada gilirannya dapat meningkatkan kesejahtraan masyarakat.
1.62  ICOR Yaitu suatu angka yang menunjukkan perubahan rata rata jumlah investasi yang diperlukan untuk dapat meningkatkan tambahan output.
1.6.3    Laju Pertumbuhan sub sektor peternakan adalah suatu proses kenaikan riil output perkapita suatu negara dari tahun ke tahun dan dihitung berdasarkan harga konstan.
1.6.4        Produk domestik regional bruto (Value Added) Yaitu jumlah nilai produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh unit produksi yang beroperasi dalam suatu wilayah tampa memperhatikan apakah faktor produksinya berasal atau dimiliki oleh wilayah yang bersangkutan.